Sebuah cerpen yang terinspirasi dari memoar Angkatan 12 Akademi Ilmu Pelayaran
Matahari sore menggantung malas di ufuk barat ketika lelaki tua itu duduk sendirian di dermaga. Rambutnya memutih, kulitnya legam dimakan garam laut, tetapi matanya masih setajam radar yang pernah menuntunnya melewati badai.
Di tangan kirinya tergenggam secangkir kopi hitam. Di tangan kanannya, sebuah topi perwira yang warnanya mulai pudar.
"Kalau laut bisa bicara," gumamnya, "dia pasti hafal semua cerita kami."
Namanya Suparwo, seorang penggiat pendidikan dan media sosial dengan julukan Lilin Tua.
Julukan itu bukan karena usianya, tetapi karena ia selalu percaya bahwa lilin tak pernah memilih tempat untuk menyala. Di mana pun ditempatkan, tugasnya hanya satu: memberi cahaya.
Lima puluh tahun lebih telah berlalu. Namun setiap kali matanya terpejam, Ancol Point selalu memanggilnya pulang.
Tahun itu mereka datang dengan mimpi sebesar samudra.
Mereka adalah Angkatan 12 Akademi Ilmu Pelayaran, angkatan terakhir yang memperoleh ikatan dinas penuh dari negara. Masuk AIP bukan sekadar lolos kuliah. Mereka merasa sedang menerima titipan rakyat Indonesia.
"Negara membayar pendidikan kita. Jangan pernah bikin malu negeri ini."
Kalimat itu masih terngiang hingga hari ini.
Belum sempat menikmati seragam putih kebanggaan, mereka lebih dulu menjadi "Tunas". Status yang terdengar indah, tetapi kenyataannya jauh dari kata nyaman.
Subuh belum benar-benar lahir ketika peluit panjang membelah udara.
"Bangun!"
Dalam hitungan detik, ratusan tubuh berhamburan keluar.
Merangkak di aspal yang masih menyimpan panas kemarin. Push-up sampai tangan gemetar. Berlari sampai napas terasa terbakar.
Kalau hari ini orang menyebutnya bullying, mungkin benar.
Tetapi bagi mereka, itu adalah proses menghancurkan ego sipil agar lahir pribadi yang tak mudah menyerah.
Malam hari, ketika lampu barak dipadamkan, tidak ada yang mengaku menangis.
Meski bantal mereka sering basah.
Hidup di Ancol Point seperti tinggal di sebuah kota kecil yang punya dunianya sendiri.
Ada dormitory yang dipenuhi cerita.
Ada bak mandi legendaris yang airnya dingin seperti baru keluar dari perut bumi.
Ada Lapangan Singa yang membuat kaki terasa bukan milik sendiri setelah latihan.
Ada Sport Hall tempat tawa kembali terdengar.
Dan tentu saja...
Kantin Tante Makatita.
Surga kecil bagi taruna yang dompetnya selalu tipis.
"Bu... nanti saya bayar bulan depan ya."
Tante hanya tersenyum sambil membuka buku utang.
Buku itu lebih sakti daripada kartu kredit zaman sekarang.
Namun masa muda mereka bukan hanya soal latihan dan kuliah.
Indonesia sedang berubah.
Suasana politik memanas.
Mereka turun ke jalan bersama mahasiswa lain.
Gas air mata.
Teriakan.
Lari.
Kejar-kejaran.
Bagi banyak orang, mereka hanyalah Taruna pelayaran.
Tetapi hari itu mereka merasa menjadi bagian dari sejarah.
Bahwa pelaut tidak hanya berani menghadapi badai laut.
Mereka juga harus berani menghadapi badai zaman.
Lalu datanglah peristiwa yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan.
KM Batanghari.
Di atas kapal latih itu, tekanan demi tekanan akhirnya meledak menjadi aksi protes besar.
Angkatan 12 berdiri.
Angkatan 11 ikut menopang.
Tidak semua sepakat.
Tidak semua berani.
Namun satu hal jelas...
Solidaritas jauh lebih kuat daripada rasa takut.
Konsekuensinya tidak ringan.
Mereka harus meninggalkan asrama.
Tinggal berpencar di rumah-rumah kos murah sekitar Jakarta.
Untuk pertama kalinya mereka hidup tanpa peluit, tanpa pengawasan, tanpa pagar akademi.
Di situlah mereka belajar bahwa disiplin sejati bukan ketika diawasi.
Melainkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Tak lama kemudian, datang panggilan yang sesungguhnya.
PROLA.
Proyek Laut.
Di atas kapal niaga, dunia berubah total.
Tak ada lagi dosen yang memaklumi kesalahan.
Tak ada lagi senior yang memberi aba-aba.
Yang ada hanya ombak.
Mesin.
Keringat.
Dan pekerjaan yang seolah tak pernah selesai.
Suparwo bersama sahabatnya, Tan Alusinsing, ditempatkan di kapal KU Djajadwitya.
Di sanalah teori berubah menjadi kenyataan.
Mereka belajar bahwa laut tidak peduli siapa ayahmu.
Tidak peduli seberapa tinggi nilai ujianmu.
Kalau lengah...
laut akan mengambil nyawamu.
Lima tahun.
Rasanya lama.
Sangat lama.
Terlalu lama, kata sebagian orang.
Namun ketika hari pelantikan tiba, waktu seperti berhenti.
Seragam putih bersih.
Pangkat baru.
Orang tua berdiri dengan mata berkaca-kaca.
Tak banyak kata yang terucap.
Karena semua rasa telah selesai diterjemahkan oleh air mata.
Hari itu mereka bukan lagi taruna.
Mereka resmi menjadi perwira pelayaran.
Anak-anak kampung yang dahulu datang membawa koper lusuh, kini berdiri tegak membawa kehormatan.
Kini, puluhan tahun telah berlalu.
Sebagian sahabat telah berlabuh untuk selamanya.
Sebagian masih berlayar.
Sebagian lagi menjadi pemimpin perusahaan, birokrat maritim, nakhoda, port captain, fleet manager, dosen, dan mentor bagi generasi berikutnya.
Waktu memang mengubah banyak hal.
Tetapi persaudaraan Angkatan 12 tidak pernah mengenal kata pensiun.
Suparwo menatap laut yang mulai gelap.
Ia tersenyum kecil.
Ancol Point mungkin sudah berubah.
Gedung-gedung mungkin telah berganti.
Lapangan mungkin telah direnovasi.
Namun ada satu hal yang tidak pernah bisa dihapus oleh zaman.
Semangat yang ditempa selama lima tahun di Kawah Candradimuka itu masih hidup di dalam dada setiap alumninya.
Karena mereka sadar, pelaut sejati bukanlah orang yang mampu mengendalikan kapal.
Melainkan orang yang tetap mampu menjaga arah hidup ketika badai datang dari segala penjuru.
Dan selama ombak masih bergulung di lautan Indonesia...
Nama Angkatan 12 akan selalu menjadi bagian dari cerita itu.
Bukan sekadar angkatan terakhir penerima ikatan dinas.
Tetapi generasi yang membuktikan bahwa badai tidak pernah menghancurkan pelaut sejati.
Badai hanya mengajarkan mereka cara menjadi lebih kuat.
![]() |
| Tribute to Bas Suparwo Lilin Tua - CAAIP 12 |

Komentar



