![]() |
| Suparwo - CAAIP 12 |
Oleh : Lilin Tua ( Suparwo - CAAIP 12 )
Masuknya Indonesia ke dalam IMO White List bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari perjuangan kolektif yang penuh dedikasi.
Sebagai salah satu pelaku sejarah dalam proses tersebut, momen-momen kritis saat memenuhi standar konvensi STCW (Standards of Training, Certification and Watchkeeping) adalah masa di mana kedaulatan maritim kita sedang dipertaruhkan di mata internasional.
Demi memenuhi tuntutan ketat dari International Maritime Organization (IMO), terdapat empat pilar utama yang menjadi fokus perjuangan kami saat itu:
1. Transformasi Kurikulum dan Mutu Instruksional
Kami menyadari bahwa fondasi utama adalah SDM. Oleh karena itu, dilakukan penyempurnaan kurikulum secara menyeluruh agar selaras dengan standar global. Tidak hanya kurikulum, kualitas dan kuantitas instruktur pun ditingkatkan secara drastis.
Setiap instruktur yang kuantitasnya telah ditambah dari para pelaut senior yang ingin berdedikasi kedunia pendidikan wajib memiliki sertifikasi BST (Basic Safety Training) serta kualifikasi IMO Model Course 6.09 (Training Course for Instructors) dan 3.12 (Assessment, Examination and Certification of Seafarers).
2. Modernisasi Sarana dan Prasarana Diklat
Untuk menghasilkan pelaut yang kompeten, sarana praktikum tidak bisa ditawar. Kami berjuang dalam pengadaan sarana diklat yang bersifat mandatory (wajib) maupun recommended sesuai standar IMO, mulai dari simulator hingga peralatan keselamatan terkini.
3. Sinergi Proyek MSTP (Maritime Sector Training Project)
Sebagai mesin penggerak perubahan, dibentuklah proyek MSTP.
Dalam pelaksanaannya, kami berkolaborasi dengan mitra internasional untuk memastikan standar terbaik:
* IMTA (Belanda):
Sebagai konsultan ahli dalam membangun dan memantapkan sistem Diklat.
* JICA (Jepang):
Sebagai mitra strategis dalam penyediaan dan pengembangan sarana Diklat
4. Diplomasi dan Dukungan Lintas Sektoral
Perjuangan ini tidak akan berhasil tanpa dukungan politik dan anggaran di dalam negeri.
Kami melakukan lobi dan koordinasi intensif dengan DPR-RI, BAPPENAS, Ditjen Anggaran, hingga MenPAN. Sinergi inilah yang memungkinkan kebijakan dan pendanaan mengalir demi satu tujuan: menjaga harga diri ijazah pelaut Indonesia di dunia internasional.
Alhamdulillah, berkat kerja keras seluruh tim Badan Diklat Perhubungan besrta jajaran, Dan Direktorat Jendral Perhubungan Laut, Indonesia berhasil masuk ke dalam IMO White List.
Ini bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan jaminan bagi jutaan pelaut kita untuk terus berlayar dengan tegak di seluruh samudra dunia.
"Lilin Tua mungkin meredup, namun cahaya ilmu dan standar yang ditinggalkan akan terus menerangi jalur pelayaran generasi penerus."

Komentar